An Introductory Script to Rekah’s Berbagi Kamar (Bahasa)

Berbagi Kamar

r e k a h

 

Kenapa “Berbagi Kamar”?

Saya suka membayangkan pikiran seperti sebuah kamarsuatu ruang yang sangat absurd dan penuh dengan benda-benda acak. Bagi seseorang dengan pikiran yang riuh akan kecemasan seperti saya, membiarkan orang lain mengintip ke dalam adalah suatu hal yang tak terbayangkan. Buat saya pikiran adalah tempat berkembang biak hal-hal buruk.

Nah, sekarang bayangkan: ada seseorang yang mendobrak masuk, menanam bunga-bunga yang seperti kita tahu tak bisa tumbuh di kamar tanpa tanah, kemudian pergi setelah meninggalkan benda-benda yang, sialnya, tak pernah bisa kau buang.

Kamar saya tak pernah sama sejak kejadian itu. Bukan hal yang buruk, sebenarnya. Kebiasaannya untuk mencoret-coret dan memindahkan barang-barang di kamar saya membuat saya menyadari bahwa kita selalu bisa melihat segala sesuatunya dengan sudut pandang baru (saya kemudian menemukan bahwa sekedar mengubah perspektif tak serta merta dapat mengubah tahi menjadi PS4, misalkan, tapi ini adalah cerita untuk lain kali).

“Berbagi Kamar” adalah usaha saya untuk merekam pengalaman saya bersama sang tamu ini. Waktu itu saya berpikir bahwa apa yang kami alami lumayan menarik. Kami punya kutukan yang sama, warna yang sama, dan kecenderungan yang sama untuk mengutuki dunia. Bahwa kemudian kami bertengkar dan ia memutuskan untuk pergi karena perbedaan pandangan adalah urusan lain. Kejadian-kejadian yang saya alami dengannya membekali saya dengan kemampuan-kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk bertahan hidup dan entah kenapa saya ingin membaginya dengan kalian karena saya tahu: saya tak sendiri.  

Untuk menceritakan kisah-kisah dalam Berbagi Kamar, saya menggunakan dua tokoh. Kita sebut saja Rekah dan Raya.

 

—-

 

Rekah tak pernah takut pada neraka dan percaya bahwa surga adalah suatu keniscayaan. Ia hanya takut pada dua hal: kesendirian dan pikirannya sendiri. Bagaimana tidak? Pikirannya adalah kumpulan kesedihan, ketakutan, dan kemarahan yang sering melempar suasana hatinya ke dalam palung tak berujung ataupun rentetan kemarahan yang tak bisa dipasung. Ia tak punya kuasa atas dirinya sendiri.

Suatu hari, Rekah bertemu dengan Raya, seorang gadis yang nampak seperti selalu mengenakan malam—dingin dan gelap—sampai ia mengenalnya dengan lebih dekat. Dari percakapan-percakapan tengah malam mereka, Rekah mengetahui bahwa ternyata Raya serupa dengan dirinya, walau di tingkat yang lebih ekstrim: Raya adalah personifikasi badai yang tak segan mencabik kota-kota yang dilaluinya. Menurut Raya, ia melakukan hal tersebut karena trauma yang pernah dialaminya—betapa kota-kota yang diacaknya layak mendapatkan hal tersebut karena mereka tak lebih dari kota yang gemar memangsa warganya sendiri. Maka, Raya memutuskan untuk menjadi badai bagi mereka: berbahaya dan tak tersentuh. Brengsek, memang, tapi Rekah berpikir bahwa itu adalah kebrengsekan yang diperlukan untuk bertahan hidup.

 

#1: Lihat Aku Menghancurkan Diri

Pada awalnya, Rekah takut. Saya tak menyalahkan dia. Hei, siapa yang berani berdansa dengan tokoh semengerikan Raya? Ia tak butuh sosok sebesar Raya untuk membuatnya porak poranda. Ia bisa melakukannya sendiri. Namun, Rekah tetap tak bisa menolak ketika Raya mengajaknya bermain.

Rekah pun mengundang Raya masuk ke dalam kehidupannya.

 

#2: Mengeja Langit-Langit

Biasanya, butuh waktu lama bagi seseorang untuk mendapatkan kepercayaan Rekah, namun tidak bagi Raya—ia masuk lebih mudah daripada pendaratan sekutu di pantai Normandia. Mungkin kalian bertanya-tanya : bagaimana seseorang yang tak pernah mempercayai siapapun seumur hidupnya bisa semudah itu mengizinkan orang masuk ke dalam hidupnya? Semua ini berawal dari satu kejadian.

Pada suatu hari, Rekah menerima tamu yang bahkan lebih sering berkunjung daripada menstruasinya: serangan panik. Tamu yang tak diundang tersebut biasanya datang karena dipicu oleh hal-hal kecil yang bagi sebagian orang mungkin merupakan hal yang remeh. Bagi Rekah, mengalami serangan panik itu bagaikan mengeja langit-langit yang sedang runtuh—sekuat apapun kamu berusaha menjaga dirimu sadar, kegelapan tetap akan runtuh menimpamu pada akhirnya.

Kondisi ini adalah salah satu alasan Rekah menjauhi hal apapun yang dapat memicu serangan paniknya, termasuk perasaannya sendiri. Seringkali, Rekah sudah hapal apabila terjadi suatu hal yang akan memicu serangan paniknya dan biasanya pula Rekah menghadapinya sendiri. Bukannya apa-apa, Rekah hanya tak ingin seseorang pun tahu ia mempunyai kelemahan sebesar itu.

Sialnya, serangan itu kini datang ketika Rekah sedang bersama Raya. Pertahanan terakhirnya runtuh. Rekah tak punya apa-apa lagi untuk disembunyikan dari Raya. Segalanya akan berjalan lebih mudah kalau Raya meninggalkannya saat itu juga. Rekah sudah hapal bagaimana skenarionya: ia membuka diri, semua orang lari ketakutannya. Sialnya, kali ini Rekah membaca naskah yang salah: Raya mengerti.

Bagaimana mungkin kamu tidak jatuh hati pada seseorang yang mengetahui semua rahasiamu?

(Itulah kenapa kamu seharusnya tidak bercerita terlalu banyak kepada orang lain, tolol!).

 

#3: Seribu Tahun Lagi

Jatuh cinta membuat orang kehilangan rasionalitasnya (saya bergidik ketika menulis ini, tapi percayalah: saya benar-benar mengamini apa yang saya tulis). Setidaknya begitulah bagi Rekah. Ia tahu bahwa kegelisahannya tak akan sirna hanya karena ia jatuh cinta, namun fakta bahwa ia tak lagi sendiri membuatnya yakin ia bisa menghadapi serangan apapun yang datang untuk mengoyaknya. Bersama Raya, ia yakin dapat hidup selama seribu tahun. Rekah percaya: apapun yang terjadi padanya, Raya akan datang menyelamatkannya. Begitupun sebaliknya. Hidupnya adalah milik Raya. Setidaknya begitulah yang ia percaya.

Rekah tak paham bahwa menganggap bahwa tak ada yang bisa berjalan salah adalah apa yang membuat karakter-karakter dungu di film horor menemui ajal lebih cepat dari karakter-karakter lainnya.

 

#4: Tentang Badai dan Pagi Setelahnya

Ada satu hal yang dilupakan Rekah: sejatinya, Raya tetaplah sesosok badai yang tak dapat diikat oleh apapun. Ia akan tetap melesat memburu kota yang mengundangnya masuk untuk mengacaknya. Rekah takut apabila Raya menemukan kota yang lebih nyaman dari dirinya dan memutuskan untuk pindah. Ia berpikir, mungkin seharusnya ia tak seyakin itu untuk bisa hidup selama seribu tahun lagi bersama Raya. Mungkin seharusnya ia menganggap tarian mereka berdua sebagai sebuah dansa yang sewaktu-waktu akan berakhir.

Di titik ini, Rekah sudah mulai menyadari bahwa ia baru saja mempersembahkan lehernya pada seorang pembunuh berantai.

 

#5: Belajar Tenggelam

Sebenarnya Rekah dan Raya adalah pribadi yang sangat mirip satu sama lainnya. Mereka sama-sama mengenakan malam, mendengarkan musik yang sama, tertawa pada lelucon yang sama, serta sama-sama memunyai kutukan yang bernama gangguan jiwa. Hanya saja, ada sesuatu yang membedakan mereka berdua: Raya membiarkan hidupnya disetir oleh kutukan tersebut, sedangkan Rekah ingin melampaui kutukan tersebut.

Rekah merasa Raya sepertinya memilih hal tersebut bukan karena takut. Ia hanya tak cukup kuat untuk melawan. Bagaimana pun Rekah merasa bahwa memberontak melawan kutukan ini adalah hal yang perlu untuk bertahan hidup. Ia mungkin pada awalnya melihat Raya sebagai seorang yang penuh dengan kehidupan, namun setelah mengenalnya lebih dekat, ia kemudian menyadari bahwa sesungguhnya semua yang Raya lakukan adalah usaha untuk lari dari kutukannya.

Untuk mengenal kutukannya, Rekah memutuskan bahwa belajar untuk tenggelam dalam hal-hal buruk yang bersemayam dalam pikirannya adalah hal yang perlu. Raya masih tak begitu yakin. Ia memutuskan untuk melanjutkan pelariannya tanpa Rekah.

Rekah akhirnya menyadari bahwa kau tak selalu bisa menyelamatkan orang yang enggan melawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s