‘Kekosongan Yang Sama’ by Sandro D. Armanda (Bahasa)

KEKOSONGAN YANG SAMA

OLEH SANDRO ARMANDA

 

Setelah kematian suami dan anak semata wayangnya, Sawitri sudah benar-benar merasa hampir kehilangan kewarasannya. Ia tak lagi peduli hari esok akan seperti apa. Hidup yang sudah ia bangun dengan penuh rencana—seperti menyusun batu bata dengan hati-hati satu demi satu—runtuh begitu saja.

Perempuan berumur empat puluh itu mungkin sudah kehilangan belasan kilo dari bobot badannya semula. Cekungan di wajahnya semakin kentara saja menegaskan bentuk tengkorak di balik kulit dan dagingnya. Ada kekosongan yang kini ia selalu rasakan di tempat yang sama—dan ia tahu itu adalah hatinya.

Tiga bulan sebelumnya, di depan pintu sebuah pasar swalayan, Sawitri menggerutu memegang ponsel yang menempel di telinga.

“Kamu katanya jam empat udah di sini?!”

“Iya, sayang, bentar ya, aku baru beres ini, barusan ada masalah dulu di proyek.”

“Terus Bayu udah dijemput?”

“Ya belum, ini makanya aku masih di jalan mau jemput Bayu.”

Euhh kamu ini! Ya udah aku nunggu di Starbucks aja ya!”

“Iya, sabar sebentar lagi ya…”

Tut.

Di sampingnya berdiri troli yang disesaki kantung-kantung plastik putih gemuk berisi itu dan ini. Dua langkah saja ke depan dan ia akan basah kuyup kehujanan. Berkali-kali ia menggelengkan kepala dan melambaikan tangan pada supir-supir taksi yang menawarkan jasa. Sawitri menghela nafas panjang. Tangannya kemudian mencengkeram kembali gagang plastik merah dari kereta dorong besi di sampingnya, memutarnya lalu berjalan ke arah berlawanan, kembali masuk menuju kedai kopi berwarna hijau yang selalu ramai kalau hujan itu.

Toroktok-tok-tok-tok. Dug-dug-dug. Televisi yang menempel di pilar tengah ruangan kedai kopi itu sudah menayangkan azan magrib. Sawitri berkali-kali mencoba hubungi suaminya, Warsa, yang sudah lewat dua jam tak nampak juga mobilnya—tapi tak juga dijawab. Sampai akhirnya kemudian ia tahu—dua orang yang dikasihinya itu tak akan datang, tidak untuk selamanya.

Kabar duka itu datang seperti sambaran kilat yang mahadahsyat. Menghentikan jalannya waktu yang menurut Einstein relatif itu. Pada saat yang sama, Sawitri berharap hidupnya pun ikut berhenti—saat itu juga. Kecelakaan yang menimpa suami dan anaknya memang tak ada yang sangka. Mobil yang dikendarai ayah dan anak di perjalanan menjemput ke pasar swalayan itu tiba-tiba saja tertimpa pohon besar berusia (mungkin) ratusan yang tumbang karena angin dan hujan besar. Tepat saat mobil mereka terjebak macet yang merayap. Memang tak hanya ayah dan anak itu saja yang tewas di tempat. Seorang pedagang soto di seberang jalan, dan beberapa pelanggan yang sedang makan pun ikut tewas berbarengan tertimpa satu pohon besar yang sama. Beberapa lain berhasil menghindar tepat waktu, dan hanya luka ringan saja.

Setiap pagi, Sawitri bangun di ranjangnya yang besar dan dingin dengan kekosongan yang sama. Kecewa dengan entah kekuatan apa yang selalu membangunkannya setiap hari. Padahal setiap ia memejamkan mata saat malam, Sawitri selalu berharap itu untuk selamanya.

Sejak tiga bulan itu pula Sawitri tak lagi mau keluar rumah. Hidupnya hanya ditanggung oleh tunjangan dari perusahaan tempat bekerja Warsa yang mau berbaik hati, dan sedikit simpanan dana keluarga. Beruntung ia masih punya Bi Salimah, asisten rumah tangga yang sudah bekerja di rumah itu selama lebih dari tujuh tahun. Dengan penuh kesabaran ia masih mau mengurusi semua pekerjaan rumah; menyapu, mengepel, menyuci, menyiapkan makanan, mengunci rumah kalau malam, membuka pintu dan jendela setiap pagi. Baginya, melayani keluarga Pak Warsa dan Bu Sawitri sudah bukan lagi soal pekerjaan, tapi pengabdian, layaknya keluarga sendiri.

Tentu sering terpikirkan dalam benak Sawitri untuk bunuh diri. Tapi foto Bayu yang dipajang di ruang tengah selalu membuatnya terhenti.

“Bu, ada surat buat Ibu.”

“Dari siapa?” tanyanya lesu. Tak menoleh.

Ndak tau, Bu. Disimpan begitu aja di depan pintu tadi pagi waktu aku baru buka mau nyapu.”

Sawitri tak memberi tanggapan apa-apa. Ia melanjutkan sarapannya yang ia kunyah lambat-lambat, seolah cuma rahangnya saja yang bergerak secara mekanis, pikirannya tidak. Matanya yang berkantung itu hanya menatap ke meja makan, tapi Bi Salimah tahu perempuan malang itu tak melihat apa-apa, setidaknya tidak yang di masa sekarang.

Bi Salimah menaruh surat beramplop putih polos itu di meja makan, di samping poci tanah liat berisi teh melati hangat, lalu bergegas kembali ke dapur.

Sawitri bisa mendengar bunyi dapur yang kembali riuh oleh entah apa yang dikerjakan Bi Salimah sekembalinya perempuan tua itu ke sana. Ia melirik surat yang tergeletak di depannya. Ia ambil, lalu menilik, membolak-balik, barangkali ada nama pengirimnya. Tak ada apa-apa. Ia lalu membuka tutup amplop yang tak direkatkan itu. Di dalamnya ia temukan secarik kertas putih polos terlipat. Ditariknya secarik kertas itu keluar. Air mukanya berubah saat menemukan pesan yang tertulis di dalamnya. Hanya ada satu kata.

legowo

Itu saja.

Ia berpikir sejenak. Orang aneh mana yang kirimi surat berisi hanya satu kata begini. Mungkin tetangga usil? Tetangga yang terlalu perhatian? Tetangga yang masih berbelasungkawa? Ah sudahlah, gumamnya dalam hati. Ia melanjutkan sarapannya yang ia kunyah lambat-lambat.

Keesokan paginya Sawitri bangun di waktu yang sama, pukul sembilan. Biasanya ia bangun lebih awal, sekitar pukul lima atau enam, dan langsung mandi. Namun tidak sejak peristiwa tiga bulan lalu itu. Sekarang ia lebih memilih bangun agak siang, duduk melamun sebentar di ranjang, lalu berjalan ke meja makan—yang biasanya sudah disiapkan sarapan.

“Ada surat lagi, Bu,” kata Bi Salimah sambil menunjuk ke meja makan tempat ia sudah meletakkan surat yang ditemukannya pagi itu. Masih surat putih polos yang sama.

Sawitri tak berkata apa-apa, ekspresinya hanya menunjukkan rasa heran. Dengan rambut yang kusut dan wajah yang sama kusut ia berjalan mendekati meja makan, mengambil surat di sebelah poci. Lalu membukanya.

legowo

Kata itu lagi.

Esok paginya ia bangun menemukan amplop putih yang sama di meja makan. Sawitri semakin terheran-heran. Dibukanya lagi surat itu.

legowo

Lagi-lagi pesan yang sama.

Bi Salimah berjalan masuk dari beranda depan, ia terhenti kebingungan melihat Sawitri yang berdiri terpaku menatap surat di samping meja makan. Sawitri mengangkat kepala, kemudian melotot ke arahnya.

“Bi Salimah! Apa ini? Jangan main-main, ya! Aku gak suka kalau ada yang aneh-aneh begini. Biarlah aku seperti ini! Biar dukaku kumakan sendiri! Kukunyah sendiri!” tegur Sawitri, agak jengkel.

“Sumpah demi Tuhan bukan aku, Bu! Aku cuma selalu nemu setiap pagi waktu buka pintu! Berani sumpah, Bu!” jawab Bi Salimah agak takut. Tapi ia sadar baru hari ini Sawitri bicara dengan nada lantang sejak peristiwa berbulan lalu. Ia nampak lebih manusiawi walaupun wujudnya masih seperti mayat hidup begitu. Sebuah ketakutan yang ia syukuri.

Lalu pundak Sawitri bergetar, ia terisak menunduk, masih memegangi surat itu. Bi Salimah yang iba tak menyangka air mata mengalir juga di pipinya. Dan dua perempuan itu menangis tersedu-sedu.

Begitulah kemudian di hari-hari seterusnya Sawitri terus menerima surat beramplop putih yang sama, dengan pesan yang sama.

legowo

Sampai hampir satu bulan telah berlalu. Kertas-kertas putih itu sudah ia biarkan menumpuk di satu wadah di pojok ruang makan. Awalnya ia memutuskan untuk tak ambil pusing, namun dalam satu sarapan yang ia kunyah tak selambat sebelumnya, Sawitri memutuskan untuk bangun lebih awal esok pagi—memergoki manusia usil yang menyimpan surat tiap dini hari.

***

Sawitri bangun pukul enam. Ia bergegas ke pintu belakang, mengambil jalan memutar lewat halaman belakang tempat jemuran, lalu ke lorong samping, membuka gembok pintu berjeruji besi, lalu ia akan berakhir di salah satu sudut halaman depan rumahnya, dari situ ia dapat mengintai beranda tempat surat itu selalu ditemukan. Namun sial bukan kepalang, surat putih itu sudah tergeletak di tempat yang sama, di atas keset jerami.

Esoknya Sawitri bangun pukul setengah lima. Mendahului matahari yang sudah beberapa bulan ini ia benci. Ia bergegas mengambil rute yang sama; pintu belakang, halaman belakang, lorong samping, pintu besi, dan berakhir di sudut halaman depan. Alangkah kagetnya Sawitri saat mendapati bukan cuma satu surat yang tergeletak di teras depan, tapi belasan, mungkin puluhan, berceceran begitu saja ke arah gerbang depan. Mungkin orang usil ini panik mendengar langkahku tadi? Mungkin ia kemudian lari tanpa peduli surat-surat itu tercecer berjatuhan? Terkanya dalam hati. Merasa ada kesempatan dapat mengejar orang usil itu, Sawitri—yang masih mengenakan daster dan bertelanjang kaki—kemudian mengikuti jejak ceceran kertas putih itu ke luar gerbang rumahnya. Menapaki setiap jejak surat seperti anjing pelacak. Ia berjalan terus, kadang berlari sambil terus menelusuri ceceran kertas yang ia temukan di sepanjang jalan. Berlari, tanpa menghiraukan orang-orang di sekeliling yang keheranan melihat perempuan yang pernah cantik itu akhirnya mau keluar rumah lagi.

Sampai akhirnya ia terhenti di depan semak belukar dengan celah lubang yang hanya bisa dimasuki binatang seukuran anjing. Sawitri, dengan nafas yang ngos-ngosan, menunduk dan mengintip di bibir lubang. Sebuah terowongan? Ia keheranan melihat surat itu terus berceceran masuk terus ke dalam. Sawitri tak banyak pikir. Ia merangkak masuk ke lubang semak itu dan bergerak terus ke depan. Duri-duri semak itu ternyata cukup tajam, meninggalkan banyak baret luka pada tubuh Sawitri dan membuat dasternya sering tersangkut dan robek berlubang di beberapa bagian. Terowongan kecil itu semakin sempit dan gelap semakin ke dalam, tapi Sawitri terus memaksakan diri.

Ada kelegaan saat Sawitri melihat sedikit terang di ujung terowongan. Ia merangkak ke depan lebih cepat. Dengan segala upaya, ia berhasil menarik tubuhnya keluar dari lubang. Sawitri memicingkan mata ke atas. Di luar, warna langit mulai memuda. Tak terasa hari sudah mulai terang. Ia menghirup nafas panjang sambil menutup mata. Di hadapannya terdapat sebuah rumah tua ringkih yang nampak kosong. Mungkin sudah lama ditinggalkan. Sawitri berdiri tertegun sejenak. Ia tak kenali di mana ia berada. Bertahun tinggal di sekitar, tak pernah sebelumnya ia tahu ada tempat sesuram ini. Memandangi rumah itu, ada perasaan yang timbul yang ia kenali: kosong—dan ia tahu itu adalah hatinya. Sesak. Ia mencengkram dadanya.

Sawitri kembali melihat ke tanah, ke ceceran kertas-kertas putih yang mengarah ke pintu masuk rumah kosong itu. Ia berjalan mendekati pintu, melangkahkan kaki kotornya di beranda yang ditutupi debu dan daun-daun kering. Pintu masuknya terkunci, tapi kertas-kertas itu nampak menyelip di bawah pintu. Ia menggoyang gagangnya berkali-kali tapi tetap tak terbuka. Menendang-nendang tetap tak terbuka. Sampai akhirnya ia melangkah mundur ke belakang, lalu dengan sekuat tenaga berlari dan melemparkan tubuhnya ke pintu, mendobrak dengan segala upaya. Pintu berhasil terbuka. Angin berembus masuk dan keluar berebutan. Kertas-kertas putih berterbangan. Ia tersungkur jatuh di lantai kayu berdebu. Kemudian berdiri perlahan, mengibas-ibas dasternya yang sudah tak karuan. Alangkah kaget bukan kepalang saat ia mendongakkan kepala memandang sekelilingnya. Ratusan, mungkin ribuan kertas-kertas putih menempel memenuhi dinding, lantai, dan plafon. Semuanya hanya bertuliskan satu kata.

legowo

Dan perempuan itu menangis tersedu-sedu lebih hebat dari tangisan sebelumnya.

(Denpasar, 2016)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s